Selasa, 02 Juni 2009

Kendala yang Dihadapi dalam Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)


Kendala-kendala yang dihadapi sekolah dalam proses pembelajaran TIK tentunya beragam sesuai dengan kebutuhan dan keberadaan sarana dan prasarana yang mendukung. Secara umum, kendala yang dihadapi sekolah dalam proses pembelajaran TIK adalah berkaitan dengan latar belakang pendidikan terkahir dari tenaga pendidik atau guru dari TIK itu sendiri. Dimana saat ini, Indonesia belum memiliki alumni atau belum mengeluarkan lulusan sarjana pendidikan TIK.

Kendala tersebut menimbulkan dampak kendala pengikut (nurturant effect), seperti kendala atau masalah yang terkait dalam proses pembelajaran TIK di kelas. Guru mengalami kendala dalam kemampuan pedagogiknya, seperti penguasaan kelas, penyajian materi yang sesuai dengan taraf kemampuan siswa, cara mengatasi siswa yang terlalu banyak memberikan pertanyaan kepada guru, cara membelajarkan siswa untuk belajar, dan lain sebagainya. Disini, guru TIK memiliki kemampuan penguasaan materi yang sangat baik, namun memiliki kekurangan atau kesulitan yaitu terkait dengan kemampuan untuk dapat membuat strategi pembelajaran atau kegiatan pembelajaran yang mampu mentransfer materi ke siswa dengan baik dan benar.

Dalam Mengatasi kendala ini, bermacam cara atau kebijakan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah. seperti pemberian pelatihan-pelatihan secara khusus dari sekolah kepada guru TIK tersebut dengan memberikan pelatihan secara intern dan juga pemberian kesempatan yang lebih banyak kepada guru mata pelajaran TIK untuk dapat mengikuti pelatihan dan penataran yang terdapat terkait.

Selain itu, terdapat juga kendala yang dihadapi oleh guru TIK berhubungan dengan jumlah atau ketersediaan komputer yang kurang memadai dengan jumlah siswa yang ada. Sekolah terutama guru TIK harus mampu mengatasi kendala yang dihadapi ini sebisa mungkin, seperti salah satu caranya adalah: dengan membagi siswa dalam dua kelompok (seperti yang telah dilakukan beberapa sekolah). Sebagian siswa mendapatkan teori pelajaran terlebih dahulu baru mendapatkan kesemapatan untuk praktek. Sebagain lainnya, siswa diberikan praktek dulu baru mendapatan teori dari pembelajaran. Tentunya hal ini memiliki kekurangan dan kelebihan yang ditimbulkan? Bagaimana menurut Anda? Kebijakan apa yang lebih baik dilakukan oleh pihak sekolah atau guru TIK itu sendiri?

Adapun yang dilakukan oleh pihak guru TIK untuk mengatasi kesulitan dalam belajar seperti pengeydiaan sebuah Modul yang semenarik dan sebaik mungkin dengan harapan siswa akan mampu belajar sendiri menurut kecepatan mereka masing-masing.

Berikut ini beberpa kendala yang dihadapi oleh beberapa sekolah terkait dengan proses pembelajaran TIK: (melalui beberapa observasi, makalah)
  • SMU Negeri 3 Palembang

Secara fisik, kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya jumlah unit komputer bagi pemebelajaran siswa, namun saat ini SMA Negeri 3 Palembang sedang dalam tahap pembangunan yang juga direncanakan untuk dibangun satu ruang laboratorium komputer. Secara teknis, guru mata pelajaran TIK di sekolah ini mengaku kekurangan teknisi yang diharapkan dapat membantu dalam pemeliharaan perangkat multimedia yang ada. Bukan berarti selama ini tidak ada pemeliharaan, pemeliharaan tersebut ada dan dilakukan satu bulan sekali. Namun menurut mereka akan lebih baik bila ada teknisi yang selalu siap siaga setiap hari memantau dan memelihara juga membantu menangani masalah-masalah teknis pembelajaran TIK.

Selain dari pada masalah teknisi, juga menjadii masalah mengenai kekurangan tenaga pengajar, yang dimaksudkan oleh para guru, mereka berharap dalam pelaksanaan pembelajaran mereka mempunyai tim pengajar, yang hingga saat ini belum memungkinkan mereka untuk melakukannya karena saat ini jumlah guru yang ada yaitu hanya 3 orang. Harapannya bila mereka ada tim pengajar (atau asisten) pada saat mereka kegiatan pemebelajaran berlangsung, mereka (guru) jadi tidak mengalami ksulitan atau kewalahan dalam memfasilisator siswa dengan baik. Karena pembelajaran TIK ini sifatnya praktek, maka akan menemukan kesulitan bila guru pendampingnya hanya satu orang, satu siswa bertanya, siswa yang lain juga bertanya, dan seterusnya. hal ini memungkinkan akan terjadinya proses penyitaan waktu.

  • SMU Negeri 5 Palembang

Kendala yang dihadapi oleh sekolah terkait dalam proses pembelajaran TIK, antara lain:









Ø Latar Belakang Pendidikan Guru TIK. Sekolah memiliki 2 (dua) orang guru TIK, dimana kedua guru TIK tersebut merupakan lulusan Sarjana Komputer yang non-kependidikan. Hal ini menjadi kendala bagi sekolah, dimana dalam proses pembelajaran guru kurang mampu menguasai kelas. Namun disini, pihak guru melakukan usaha dalam meminimalisir kendala tersebut dengan memberikan bimbingan secara intern kepada para guru tersebut.

Ø Ketersediaan Tenaga Pendidik. Karena saat ini jumlah guru TIK hanya ada 2 (dua) orang, dimana SMA Negeri 5 Palembang memiliki 6 (enam) kelas untuk tiap tingkatnya. Hal ini menjadi kendala bagi sekolah karena pengalokasian atau perbandingan dari jumlah guru dan jumlah siswa tidak sesuai dengan standar yang ada. Dimana diharapkan ketersediaan jumlah guru ada adalah 6 (enam) orang guru TIK.

  • SMU Negeri 6 Palembang

Pemeliharaan komputer dari pihak sekolah yang minim, mengakibatkan beberapa komputer tidak dapat dimanfaatkan oleh siswa. Namun seiring dengan waktu, sekolah melakukan kerja sama dengan CV. Friend’s Comp. Pihak CV. Friend’s Comp untuk melakukan pemeliharaan komputer secara rutin tiap minggunya. Hal serupa juga dialami oleh SMA Negeri 6 Palembang yang terkait dengan latar belakang pendidikan terakhiur dari guru TIK, disini pihak sekolah memberikan pelatihan intens kepada guru TIK, guna peningkatan kompetensi pedagogiknya.

  • SMU Plus Negeri 17 Palembang

Kendala yang dihadapi oleh SMA Plus Negeri 17 Palembang secara garis besarnya hanya terkait dengan latar belakang guru TIK yang non-kependidikan. Pihak sekolah pernah memiliki guru TIK dengan latar belakang kependidikan, namun memiliki penguasaan materi tentang TIK kurang. Hal ini dirasakan pihak sekolah menjadi kurang baik daripada guru TIK yang non-kependidikan yang memiliki penguasaan secara mendalam tentang TIK.

Namun seiring dengan waktu, pihak sekolah lebih mengutamakan penguasaan atau penyajian materi pelajaran TIK yang mendalam dari pihak guru TIK itu sendiri. Untuk mengantisipasi kendala tersebut tersebut pihak sekolah lebih memilih atau menerima guru TIK dengan latar belakang non-kependidikan tapi menguasai materi TIK. Dengan harapan materi yang diterima siswa akan lebih baik. Guru TIK yang non-kependidikan tersebut diberikan pelatihan khusus tentang kependidikan.

  • SMU PGRI 2 Palembang

Kendala yang dihadapi selama pembelajaran yaitu kurangnya seperangkat komputer, jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas yaitu 45-49 siswa sedangkan jumlah komputer hanya 25 komputer. Hal ini menyebabkan satu seperangkat komputer di pegang oleh 2 orang siswa dan belajar secara bergantian. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan teori terlebih dahulu, baru kemudian praktek dengan komputer yang semuanya di lakukan di Laboratorium Komputer. Ujian dilakukan secara teoritik dan praktik yang soalnya dibuat oleh guru TIK.

Guru yang mengajarkan TIK adalah orang yang dikontrak dari TUMESKO, yaitu sebuah perusahaan yang menyediakan seperangkat komputer untuk sekolah dengan sistem kontrak. Hal seperti itu sangat menguntungkan bagi sekolah karena bila terdapat kerusakan Tumesko yang bertanggung jawab memperbaikinya atau menggantinya. Selain itu guru yang mengajarkan TIK juga berasal dari Tumesko dengan status guru honor dari sekolah dan di kontrak oleh Tumesko. Kendala yang dihadapi selama mengajar karena latar belakang pendidikan bukan dari Kependidikan yaitu pada saat awal mengajar mengalami sulit untuk menjelaskan materi kepada siswa, akan tetapi karena telah terbiasa kesulitan tersebut dapat diatasi.

Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di makalah (tugas)

Tidak ada komentar: