Sabtu, 17 Juli 2010

Masa Orientasi Siswa di SMA Negeri 1 Teluk Gelam Sumatera Selatan Kab. OKI

Alhamdulillah, meskipun tergolong sangat baru menjadi seorang guru, saya telah diberikan kepercayaan oleh Kepala SMA N 1 Teluk Gelam, Makasih Pak, untuk ikut serta dalam kepanitiaan MOS pada tanggal 7,8,9 Juli 2010 (pdhl ada 7 teman lain loh, gak tanggung-tanggung ngisi 2 materi).

Yennipun semakin senang berada disekitar siswa-siswi, karena pada dasarnya yenni memang sangat senang berkumpul berada disekitar anak-anak. Dengan berada disekitar mereka, yenni merasa berada di dunia mereka yang penuh dengan warna-warni yang menghidupkan semangat yenni untuk menjadi yang terbaik dan menjadi panutan bagi mereka. Semangat!;)

Kegiatan MOS hari pertama yaitu pada tanggal 7 Juli 2010 diawali dengan upacara yang tentunya menjadi pembina upacara adalah Kepala SMA N 1 Teluk Gelam, Drs. H. Muchlisin.

MOSpun dibuka dengan adanya sambutan dari Kepala Sekolah disertai dengan pemberian (seperti pada gambar) secara simbolis memberikannya kepada dua orang siswa (yang mewakili).


Siswa-siswa baru dibagi dalam empat kelompok/gugus, yaitu gugus 1, gugus 2, gugus 3, dan gugus 4. Setelah upacara penyambutan tersebut, para siswa masuk kedalam masing-masing kelas sesuai dengan gugusnya masing-masing untuk memperoleh materi MOS yang tentunya diisi oleh para guru SMA Negeri 1 Teluk Gelam. Adapun materi yang diberikan seperti: Wawasan Wiyata Mandala, Pemuda Harapan Bangsa, Kedisiplinan, KTSP, dan sebagainya.

Setiap gugus terdapat kakak tingkat yaitu siswa-siswi dari OSIS yang bertanggungjawab guna kelancaran MOS.

Pada kegiatan MOS pada hari kedua, yaitu tanggal 8 Juli 2010, kegiatan upacara dipimpin dengan Muksin, S.Pd selaku pembina upacara.

Sama halnya dengan kegiatan MOS pertama, materi MOS juga disampaikan oleh para guru di dalam kelas.

Sedangkan kegiatan MOS pada hari ketiga merupakan ajang unjuk gigi bagi para siswa-siswi dari masing-masing ekstrakulikuler yang ada di SMA Negeri 1 Teluk Gelam. Sebelum ajang unjuk gigi tersebut dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara dengan Zwesty Wulandari selaku pembina upacara. Setelah upacara selesai, siswa-siswi kelas X diberi kesempatan untuk mengganti pakaian olah raga (tentunya masing memakai baju olah raga waktu mereka masing SMP). Disini siswa-siswi kelas X diminta untuk menggunakan atribut-atribut layaknya para siswa MOS pada umumnya. Seperti menggunakan pita rambut + topi kerucut berwarna sesuai dengan gugus masing-masing, kalung permen, dll.

Adapun ajang unjuk gigi yang ditampilkan adalah:
  1. Paskibra
  2. Pramuka
  3. English Club
  4. Rohis
Namun berhubung waktu tidak memadai, maka ajang unjuk gigi yang ke-4 tidak bisa ditampilkan yaitu kegiatan dari siswa-siswi ekstrakulikuler Rohis. Maaf ya nak...:).

Upacara penutupan MOSpun dilakukan upacara penutupan, secara simbolis Kepala Sekolah melepas kembali kalung dari siswa-siswi perwakilan. Maka berakhirlah acara MOS tahun 2010-2011.

Eit,,,, para gurupun ga ketinggalan moment yang berharga. Yaitu ikut berfoto ria, berikut beberapa foto yang diambil dari kamera yang dibawa Yenni ;).

(belum selesai ya,,,,, to be continued, heeeee;))

Senin, 01 Maret 2010

Aktivasi Otak Tengah di Novotel, GMC

Aktivasi Otak Tengah adalah suatu penemuan fenomenal dalam pendidikan anak. Teori penggunaan otak tengah sebenarnya telah banyak dilakukan pada banyak negara negara di Asia terutama Jepang. Jepang telah lama melakukan praktek aktivasi otak tengah pada anak-anak.Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengah akan memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak yang otak tengahnya belum di aktivasi.
Kegiatan dengan mata tertutup adalah suatu kegiatan yang paling nyata dapat dilihat. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya (Mid Brain Activated) dapat mempunyai kemampuan luar biasa. Kemampuan ini bahkan sering kali dipertontonkan secara menakjubkan dalam program hiburan sulap. Setelah melihat kemampuan anak yang telah diaktivasi, sebagian besar acara pertandingan sulap di The Master menjadi kurang menarik. Karena hal ini dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak polos yang hanya mengikuti training aktivasi otak tengah selama 2 hari. Kemampuan dasar yang dapat dilakukan adalah ‘melihat’ kartu dengan mata ditutup (blind fold). Christofle (9 thn) misalnya, setelah mengikuti training aktivasi otak tengah, dapat mengurutkan seluruh kartu remi sesuai dengan angka, warna dan bentuk gambar kartu dengan mata tertutup. Ia dapat mempergunakan indra raba untuk melihat pola dan warna lengkap dengan angka hanya dengan penglihatan kulit (Skin Vision).

Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak ini adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Dilakukan percobaan pada seorang anak yang berjalan dengan mata ditutup kain. Seseorang sengaja menghalangi jalan didepannya. Dia serta merta dapat menghindari rintangan tersebut tanpa menyentuhnya. Seorang anak bahkan dapat mengenali ayahnya diantara kerumunan orang-tua lainnya, tanpa menyentuh dan mendengar suaranya.

Pada tingkatan yang lebih lanjut seorang anak diharapkan dapat ‘melihat’ benda dibalik tembok atau didalam kotak. Ia bahkan dapat menghitung uang yang terdapat dalam dompet seeorang di hadapannya tanpa orang tersebut mengeluarkan dompetnya. Jika seorang anak rajin melatih fungsi otak tengahnya bahkan dia dapat mengharapkan membaca dokumen yang terletak dalam posisi tertutup.

Kemampuan prediksi (memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian) adalah kemampuan yang lebih tinggi yang dapat di miliki oleh seorang anak. Seorang anak yang telah mendapat aktivasi otak tengah dapat ‘menduga’ kartu apa yang akan muncul pada saat orang tersebut masih mengocok kartunya. Begitu selesai mengocok, dan memilih sebuah kartu, orang tersebut mengambil sebuah kartu yang ternyata tepat seperti ‘dugaan’ sang anak tersebut.

Aktivasi otak tengah bukanlah suatu hal yang magis atau berbau supranatural. Aktivasi otak tengah dilakukan dengan secara ilmiah. Aktivasi otak tengah ini banyak mempergunakan gelombang otak Alpha. Gelombang otak Alpha di buktikan secara ilmiah adalah gelombang otak yang muncul dominan pada saat kita dalam keadaan relax dan paling kreatif. Gelombang otak ini biasanya dominan pada saat kita bangun tidur, atau dalam keadaan relax di toilet, atau bahkan sedang berendam air panas di bathtub. Tidak heran mengapa Archimedes menemukan hukum Achimedes pada saat dia mandi.

Otak tengah yang teraktivasi memancarkan gelombang otak yang mirip seperti radar. Hal ini membuat pemiliknya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup. Pada dasarnya, gelombang tersebut terletak di bawah hidung. Hanya mampu mendeteksi benda yang terletak sedikit di bawah hidung.

Latihan yang teratur dapat membuat sang anak menjadi lebih kuat dan mampu melihat benda yang terletak lebih tinggi lagi. Bahkan ada beberapa anak yang dapat medeteksi sampai 360 derajat. Hal itu berarti mereka dapat mendeteksi benda yang terletak di belakang, atas dan semua arah.

Training aktivasi otak tengah telah mulai dilakukan di Indonesia. Saat ini belum banyak orang yang mengetahui keberadaan dari training ini. Training biasanya dilakukan selama 2 hari. Pada saat itu juga biasanya dilakukan training untuk para orang tua. Seperti juga bidang keahlian lainnya, orang tua berperan besar untuk dapat membantu anak mengembangkan potensi otak tengah mereka. Seorang anak dengan otak tengah yang kuat, diharapkan dapat mengembangkan otak kanan dan otak kiri secara lebih maksimal sehingga mereka dapat masuk kategori jenius. Bukan hanya dalam otak kiri (IQ, intelektual) , atau otak kanan (emosional, EQ) tetapi juga dalam ‘Loving Inteligence’. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang lain seperti sang pencipta mengasihi dia. Sayangnya training aktivasi otak tengah ini hanya dapat dilakukan untuk anak umur 5 – 15 tahun saja.

Untuk Palembang sendiri, telah dilakukan pada tanggal 13-14 Februari 2010 di Novotel, dan pada tanggal 27-28 Februari 2010 di Novotel.

Guru Yeyen dengan beberapa siswanya:

Guru Yeyen dengan guru Putri:

Guru yeyen dengan para guru:

Setelah diaktivasi ada anak-anak yang tertidur pulah nich;), guru yeyen foto ya......:)

Yang lebih tua jagain yang lebih muda ya?

Sesi Orang Tua ya.....:)

Congratulation!

Selasa, 09 Februari 2010

Pelatihan di Pustekkom bagi Mahasiswa Teknologi Pendidikan PPs UNSRI 2008

Para ahli dan cendikian Islam telah menetapkan beberapa ciri seorang guru yang baik. Dengan ciri-ciri berikut, seorang guru diharapkan dapat menjadi guru yang ahli di bidangnya. Adapun ciri-ciri tersebut adalah:

Ikhlas dalam Mengemban Tugas sebagai Seorang Pengajar
Seorang guru harus mempunyai falsafah hidup bahwa tugasnya yang ia emban merupakan bagian dari ibadah. Tentu saja suatu ibadah tidak akan diterima Allah SWT apabila tidak disertai dengan keikhlasan. Amat jauh perbedaan antara seorang guru yang ikhlas dan saleh dengan seorang guru yang tidak ikhlas dan tidak saleh. Seorang pelajar biasanya dapat berprestasi karena keikhlasan dan kesalehan gurunya. Hal tersebut dijamin oleh Allah dalam firman-Nya : “Hendaklah kalian menjadi orang-orang yang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya,” (QS Ali Imran [3]: 79).

Karena itu, dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pengajar, sebaiknya seorang guru juga mampu mendidik anak didiknya dengan keikhlasan dan berharap kelak anak didikpun akan memiliki keikhlasan dalam hidupnya. Amin.

Memegang Amanat dalam Menyampaikan Ilmu
Bagi seorang guru, ilmu merupakan amanat dari Allah yang harus disampaikan kepada anak didiknya dengan tanpa ada yang dikurangi. Ia juga harus menyampaikannya sebaik dan sesempurna mungkin. Jika ada seorang guru menahan atau menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, maka ia berarti telah berkhianat pada amanat yang telah diberikan Allah kepadanya.

Secara umum Allah telah memerintahkan untuk menyampaikan amanat (kepada yang berhak), termasuk amanat ilmu. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil ,” (QS An-Nisa [4]: 58). Rasulullah Saw. juga bersabda, “Seseorang yang tidak mempunyai sifat amanah tidak dapat dikatakan beriman. Seseorang yang tidak menunaikan perjanjian tidak dapat dikatakan mempunyai agama,” (HR Ahmad).

Karena itulah, begitu besarnya peranan seorang guru dalam menyampaikan amanat yaitu ilmu yang bermanfaat bagi peserta didik kelak ia berada di lingkungan masyarakat. Guru mendidik siswa untuk berlaku sopan kepada orang yang lebih tua dengan mengajar bagaimana berperilaku sopan. Hal tersebut dilakukan guru dengan besar harapan peserta didiknya akan berkelakuan sopan kepada orang yang lebih tua dari. Amin.

Memiliki Kompetensi dalam Ilmunya
Sudah menjadi keharusan bagi seorang pengemban tugas sebagai pengajar untuk memiliki penguasaan yang cukup atas ilmu yang akan ia ajarkan. Ia juga dapat menggunakan sarana-sarana pendukung dalam menyampaikan ilmu. Allah memerintahkan setiap orang untuk menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Karakter ini berlandaskan sabda Rasulullah Saw. berikut: “Sesungguhnya Allah menyukai seorang di antara kalian yang bila bekerja ia menyelesaikan pekerjaannya (dengan baik),” (HR Al-Baihaqi).
Adapun salah satu yang bisa dilakukan guru dalam mengembangkan kompetensi yang dimilikinya adalah selalu mampu mengikuti kemajuan IPTEK. Guru mampu melakukan pengembangan diri terhadap kemampuan mendaya ciptakan media yang berteknologi sederhana namun besar manfaatnya bagi peserta didik.

Selasa, 02 Juni 2009

Kendala yang Dihadapi dalam Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)


Kendala-kendala yang dihadapi sekolah dalam proses pembelajaran TIK tentunya beragam sesuai dengan kebutuhan dan keberadaan sarana dan prasarana yang mendukung. Secara umum, kendala yang dihadapi sekolah dalam proses pembelajaran TIK adalah berkaitan dengan latar belakang pendidikan terkahir dari tenaga pendidik atau guru dari TIK itu sendiri. Dimana saat ini, Indonesia belum memiliki alumni atau belum mengeluarkan lulusan sarjana pendidikan TIK.

Kendala tersebut menimbulkan dampak kendala pengikut (nurturant effect), seperti kendala atau masalah yang terkait dalam proses pembelajaran TIK di kelas. Guru mengalami kendala dalam kemampuan pedagogiknya, seperti penguasaan kelas, penyajian materi yang sesuai dengan taraf kemampuan siswa, cara mengatasi siswa yang terlalu banyak memberikan pertanyaan kepada guru, cara membelajarkan siswa untuk belajar, dan lain sebagainya. Disini, guru TIK memiliki kemampuan penguasaan materi yang sangat baik, namun memiliki kekurangan atau kesulitan yaitu terkait dengan kemampuan untuk dapat membuat strategi pembelajaran atau kegiatan pembelajaran yang mampu mentransfer materi ke siswa dengan baik dan benar.

Dalam Mengatasi kendala ini, bermacam cara atau kebijakan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah. seperti pemberian pelatihan-pelatihan secara khusus dari sekolah kepada guru TIK tersebut dengan memberikan pelatihan secara intern dan juga pemberian kesempatan yang lebih banyak kepada guru mata pelajaran TIK untuk dapat mengikuti pelatihan dan penataran yang terdapat terkait.

Selain itu, terdapat juga kendala yang dihadapi oleh guru TIK berhubungan dengan jumlah atau ketersediaan komputer yang kurang memadai dengan jumlah siswa yang ada. Sekolah terutama guru TIK harus mampu mengatasi kendala yang dihadapi ini sebisa mungkin, seperti salah satu caranya adalah: dengan membagi siswa dalam dua kelompok (seperti yang telah dilakukan beberapa sekolah). Sebagian siswa mendapatkan teori pelajaran terlebih dahulu baru mendapatkan kesemapatan untuk praktek. Sebagain lainnya, siswa diberikan praktek dulu baru mendapatan teori dari pembelajaran. Tentunya hal ini memiliki kekurangan dan kelebihan yang ditimbulkan? Bagaimana menurut Anda? Kebijakan apa yang lebih baik dilakukan oleh pihak sekolah atau guru TIK itu sendiri?

Adapun yang dilakukan oleh pihak guru TIK untuk mengatasi kesulitan dalam belajar seperti pengeydiaan sebuah Modul yang semenarik dan sebaik mungkin dengan harapan siswa akan mampu belajar sendiri menurut kecepatan mereka masing-masing.

Berikut ini beberpa kendala yang dihadapi oleh beberapa sekolah terkait dengan proses pembelajaran TIK: (melalui beberapa observasi, makalah)
  • SMU Negeri 3 Palembang

Secara fisik, kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya jumlah unit komputer bagi pemebelajaran siswa, namun saat ini SMA Negeri 3 Palembang sedang dalam tahap pembangunan yang juga direncanakan untuk dibangun satu ruang laboratorium komputer. Secara teknis, guru mata pelajaran TIK di sekolah ini mengaku kekurangan teknisi yang diharapkan dapat membantu dalam pemeliharaan perangkat multimedia yang ada. Bukan berarti selama ini tidak ada pemeliharaan, pemeliharaan tersebut ada dan dilakukan satu bulan sekali. Namun menurut mereka akan lebih baik bila ada teknisi yang selalu siap siaga setiap hari memantau dan memelihara juga membantu menangani masalah-masalah teknis pembelajaran TIK.

Selain dari pada masalah teknisi, juga menjadii masalah mengenai kekurangan tenaga pengajar, yang dimaksudkan oleh para guru, mereka berharap dalam pelaksanaan pembelajaran mereka mempunyai tim pengajar, yang hingga saat ini belum memungkinkan mereka untuk melakukannya karena saat ini jumlah guru yang ada yaitu hanya 3 orang. Harapannya bila mereka ada tim pengajar (atau asisten) pada saat mereka kegiatan pemebelajaran berlangsung, mereka (guru) jadi tidak mengalami ksulitan atau kewalahan dalam memfasilisator siswa dengan baik. Karena pembelajaran TIK ini sifatnya praktek, maka akan menemukan kesulitan bila guru pendampingnya hanya satu orang, satu siswa bertanya, siswa yang lain juga bertanya, dan seterusnya. hal ini memungkinkan akan terjadinya proses penyitaan waktu.

  • SMU Negeri 5 Palembang

Kendala yang dihadapi oleh sekolah terkait dalam proses pembelajaran TIK, antara lain:









Ø Latar Belakang Pendidikan Guru TIK. Sekolah memiliki 2 (dua) orang guru TIK, dimana kedua guru TIK tersebut merupakan lulusan Sarjana Komputer yang non-kependidikan. Hal ini menjadi kendala bagi sekolah, dimana dalam proses pembelajaran guru kurang mampu menguasai kelas. Namun disini, pihak guru melakukan usaha dalam meminimalisir kendala tersebut dengan memberikan bimbingan secara intern kepada para guru tersebut.

Ø Ketersediaan Tenaga Pendidik. Karena saat ini jumlah guru TIK hanya ada 2 (dua) orang, dimana SMA Negeri 5 Palembang memiliki 6 (enam) kelas untuk tiap tingkatnya. Hal ini menjadi kendala bagi sekolah karena pengalokasian atau perbandingan dari jumlah guru dan jumlah siswa tidak sesuai dengan standar yang ada. Dimana diharapkan ketersediaan jumlah guru ada adalah 6 (enam) orang guru TIK.

  • SMU Negeri 6 Palembang

Pemeliharaan komputer dari pihak sekolah yang minim, mengakibatkan beberapa komputer tidak dapat dimanfaatkan oleh siswa. Namun seiring dengan waktu, sekolah melakukan kerja sama dengan CV. Friend’s Comp. Pihak CV. Friend’s Comp untuk melakukan pemeliharaan komputer secara rutin tiap minggunya. Hal serupa juga dialami oleh SMA Negeri 6 Palembang yang terkait dengan latar belakang pendidikan terakhiur dari guru TIK, disini pihak sekolah memberikan pelatihan intens kepada guru TIK, guna peningkatan kompetensi pedagogiknya.

  • SMU Plus Negeri 17 Palembang

Kendala yang dihadapi oleh SMA Plus Negeri 17 Palembang secara garis besarnya hanya terkait dengan latar belakang guru TIK yang non-kependidikan. Pihak sekolah pernah memiliki guru TIK dengan latar belakang kependidikan, namun memiliki penguasaan materi tentang TIK kurang. Hal ini dirasakan pihak sekolah menjadi kurang baik daripada guru TIK yang non-kependidikan yang memiliki penguasaan secara mendalam tentang TIK.

Namun seiring dengan waktu, pihak sekolah lebih mengutamakan penguasaan atau penyajian materi pelajaran TIK yang mendalam dari pihak guru TIK itu sendiri. Untuk mengantisipasi kendala tersebut tersebut pihak sekolah lebih memilih atau menerima guru TIK dengan latar belakang non-kependidikan tapi menguasai materi TIK. Dengan harapan materi yang diterima siswa akan lebih baik. Guru TIK yang non-kependidikan tersebut diberikan pelatihan khusus tentang kependidikan.

  • SMU PGRI 2 Palembang

Kendala yang dihadapi selama pembelajaran yaitu kurangnya seperangkat komputer, jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas yaitu 45-49 siswa sedangkan jumlah komputer hanya 25 komputer. Hal ini menyebabkan satu seperangkat komputer di pegang oleh 2 orang siswa dan belajar secara bergantian. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan teori terlebih dahulu, baru kemudian praktek dengan komputer yang semuanya di lakukan di Laboratorium Komputer. Ujian dilakukan secara teoritik dan praktik yang soalnya dibuat oleh guru TIK.

Guru yang mengajarkan TIK adalah orang yang dikontrak dari TUMESKO, yaitu sebuah perusahaan yang menyediakan seperangkat komputer untuk sekolah dengan sistem kontrak. Hal seperti itu sangat menguntungkan bagi sekolah karena bila terdapat kerusakan Tumesko yang bertanggung jawab memperbaikinya atau menggantinya. Selain itu guru yang mengajarkan TIK juga berasal dari Tumesko dengan status guru honor dari sekolah dan di kontrak oleh Tumesko. Kendala yang dihadapi selama mengajar karena latar belakang pendidikan bukan dari Kependidikan yaitu pada saat awal mengajar mengalami sulit untuk menjelaskan materi kepada siswa, akan tetapi karena telah terbiasa kesulitan tersebut dapat diatasi.

Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di makalah (tugas)

Selasa, 04 November 2008

Pendekatan Positivistik sebagai Landasan Penelitian Teknologi Pendidikan

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Kawasan Penelitian Teknologi Pendidikan

Suatu bidang kajian, seperti halnya teknologi pendidikan, hanya berhak menyatakan dirinya sebagai suatu disiplin keilmuan apabila ditunjang oleh dan memberikan kesempatan untuk dilakukannya beragam penelitian yang mengungkapkan objek formal yang menjadi garapannya, yaitu belajar pada manusia. Karena pada hakikatnya semua penelitian itu merupakan syarat bagi suatu bidang kajian dari suatu disiplin ilmu, selain itu juga untuk mengungkap kebenaran (Miarso, 2007: 209).

Kawasan penelitian teknologi pendidikan sangat luas sekali bahkan boleh dikatakan hampir tidak terbatas, sepanjang penelitian itu berkaitan dengan pemecahan masalah belajar. Dasar pertimbangan kesimpulan ini adalah sebagai berikut: (Miarso, 2007: 204)

  1. Belajar dapat dilakukan oleh siapa saja, baik secara perorangan (individu) maupun secara kelompok
  2. Belajar dapat dilakukan mengenai apa saja, meskipun yang menjadi perhatian utama kita adalah yang bertujuan, terarah, dan disengaja serta yang sesuai dengan norma dan nilai dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
  3. Belajar dapat berlangsung kapan saja, sejak dalam kandungan hingga akhir hayat.
  4. Belajar dapat dilaksanakan dimana saja, di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di tempat ibadah, di masyarakat luas.
  5. Belajar dapat berlangsung dengan cara bagaimana saja (aneka proses), baik dilakukan secara individu maupun secara massal.
  6. Belajar dapat dilakukan dengan rangsangan internal dan eksternal, yaitu dari dalam diri sendiri atau dari apa dan siapa saja di luar diri (aneka sumber).
  7. Belajar dapat dilakukan untuk kepentingan apa saja, tentunya yang bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungannya.

h) Kawasan teknologi pendidikan meliputi teori dan praktik dalam merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan menilai proses, sumber dan sistem belajar.

i) Pemecahan masalah belajar secara empirik dapat dilakukan dengan berbagai cara, strategi dan prosedur.


2.2. Landasan Berpikir Penelitian Teknologi Pendidikan

Penelitian pada hakikatnya merupakan usaha untuk mengungkap kebenaran. (Miarso, 2007: 209). Sedangkan landasan berpikir, dalam melakukan penelitian, merupakan pijakan bagi seorang peneliti sebelum melakukan penelitiannya, karena seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek penelitian. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa menyakinkan, adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang dapat membuktikan suatu kebenaran. Untuk mengungkapkan suatu kebenaran akan lebih baik dilakukan penelitian secara ilmiah dengan pendekatan isomeristik, sistemik, dan sistemik. Isomeristik yaitu penggabungan berbagai unsure yang berkaitan dalam satu kesatuan yang lebih bermakna. Sistematik artinya penelitian itu dilakukan secara runtut (teratur dengan langkah tertentu), sedangkan sistemik, artinya penelitian itu dilakukan dilakukan secara menyeluruh atau disebut pula holistic atau komprehensif.

Kebenaran dapat dibedakan dalam 4 lapis seperti ilustrasi berikut ini: (Miarso, 2007: 209)

a. Kebenaran Inderawi, yaitu kebenaran paling dasar yang diperoleh melalui pancaindera kita dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

b. Kebenaran Ilmiah, yaitu kebenaran yang diperoleh melalui kegiatan yang sistematik, logis, dan etis oleh mereka yang terpelajar.

c. Kebenaran Falsafi, yaitu kebenaran yang diperoleh melalui pemikiran/kontemplasi mendalam oleh orang yang sangat terpelajar dan hasilnya diterima serta dipakai sebagai rujukan oleh masyarakat luas.

d. Kebenaran Religi, yaitu kebenaran yang diperoleh dari Yang Maha Pencipta melalui wahyu kepada para nabi serta diikuti oleh mereka yang menyakininya.

Kebenaran falsafi dan kebenaran religi dianggap sebagai kebenaran mutlak. Kepada kita hanya ada dua pilihan: ambil atau tinggalkan (take it or leave it); kalau kita mengambilnya atau menganutnya maka kita harus mengerjakan semua perintah atau ajarannya. Namun justru karena perkembangan dalam falsafah dan agama itu sendiri, serta perkembangan budaya dan akal manusia, maka kita mulai mempertanyakan apakah kebenaran mutlak itu mengharuskan adanya kesatuan pengertian dalam segala hal mengenai hidup, kehidupan, dan bahkan alam semesta ini yang seragam?

Dari penjelasan di atas, penulis berpendapat bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti hendaknya dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun ketuhanan. Hal ini sesuai dengan hakikat penelitian itu sendiri. Selain itu tingkat kejujuran seorang peneliti akan hasil penelitianya juga harus dapat dijamin, karena kejujuran ilmiah seorang peneliti akan berdampak luas kepada pengguna hasil penelitian tersebut.

Eichelberger (dalam Miarso 2007: 211) membedakan paradigma filsafat yang melandasi metodologi pengetahuan, yaitu: positivistik, fenomelogik, dan hermeneutik. Pada makalah ini penulis hanya akan mengulas tentang penelitian teknologi pendidikan dengan pendekatan positivistik.

2.3. Penelitian Teknologi Pendidikan dengan Pendekatan Positivistik

2.3.1. Pendekatan Positivistik

Positivistik adalah filsafat yang menyatakan keutamaan observasi dalam menilai kebenaran pernyataan atau fakta dan berpendapat bahwa argumentasi metafisik dan subjektif yang tidak didasarkan pada data yang dapat diamati adalah tidak bermakna.(Seels&Barbara, 2002)

Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur. Peneliti adalah pengamat yang objektif atas peristiwa yang terjadi di dunia. Mereka percaya bahwa variable yang mereka teliti, merupakan suatu yang telah ada di dunia. Hubungan antara variable yang mereka temukan, telah ada sebelumnya untuk dapat diungkapkan. Pengetahuan merupakan pernyataan atas fakta atau keyakinan yang dapat diuji secara empiric.

Munculnya aliran filsafat positivisme ini dipelopori oleh seorang filsuf yang bernama August Comte (1798 – 1875), seorang filosof yang lahir di Montpellier Perancis. Comte jugalah yang menciptakan istilah ”sosiologi” sebagai disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat secara ilmiah. Mulai abad 20-an sampai dengan saat ini, aliran positivisme mampu mendominasi wacana ilmu pengetahuan. Aliran ini menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar, yaitu berdasarkan kriteria-kriteria eksplanatoris dan prediktif.

Untuk dapat memenuhi kriteria-kriteria dimaksud, maka semua ilmu harus mempunyai pandangan dunia positivistik, yaitu : 1) Objektif. Teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai; 2) Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan; 3) Reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati; dan 4) Naturalisme. Alam semesta adalah obyek-obyek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam (Burhan Bungis: 2005; 31-32) dalam http://ssantoso.blogspot.com/2008/08/paradigma-kuantitatif-positivistik.html

Kekuatan pengaruh aliran positivistik ini dikarenakan adalah klaim-klaim terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu ilmu pengetahuan haruslah nyata dan positivistik. Klaim-klain tersebut adalah : 1) Klaim Kesatuan Ilmu. Ilmu-ilmu manusia dan alam berada di bawah satu payung paradigma yang sama, yaitu paradigma positivistik; 2) Klaim Kesatuan Bahasa. Bahasa perlu dimurnikan dari konsep-konsep metafisis dengan mengajukan parameter verifikasi; dan 3) Klaim Kesatuan Metode. Metode verifikasi bersifat universal, berlaku baik ilmu-ilmu manusia maupun alam.

Aliran positivistik ini akhirnya melahirkan pendekatan-pendekatan paradigma kuantitatif dalam penelitian, dimana obyek penelitian dilihat memiliki keberaturan yang naturalistik, empiris, dan behavioristik, dimana semua obyek penelitian harus dapat direduksi menjadi fakta yang dapat diamati, tidak terlalu mementingkan fakta sebagai makna tetapi mementingkan fenomena yang tampak, serta serba bebas nilai (obyektif) dengan menentang secara tajam sikap subyektif. Tradisi positivistik ini membawa paradigma penelitian sebagai aliran yang berlawanan dengan paradigma kualitatif- fenomenologis.

2.3.2. Tahapan/Tingkatan Cara Berpikir Positivistik

Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu: tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif

Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.

Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana.

Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui) alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.

Dengan memperhatikan tahapan-tahapan sepertti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir).

Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika.